Friday, 28 December 2012

Namanya Bento

Lampung, Tahun 2000
 
Hari ini adalah hari di mana aku mulai menjalani kehidupan sebagai murid kelas tiga sekolah dasar. Namun hal yang tak terduga terjadi, bagaimana tidak? Kenyataannya adalah bahwa aku sekelas dengan anak yang seharusnya sudah kelas enam. Di hari pertama sebagai murid kelas tiga kami saling memperkenalkan diri di depan kelas. Ternyata anak itu bernama Dewo Hartanto, tapi ia sering dipanggil dengan nama Bento entah apa sebabnya.

Gambar Bento, seharusnya kelihatan lebih kurus lagi sih..

Ya, Bento adalah seorang anak laki-laki yang kini sekelas denganku bercirikan rambut keriting, kulit hitam, badan tinggi dan kurus dengan baju seragam lusuh yang mungkin adalah bekas kakaknya. Usia Bento lebih tua tiga tahun di atasku. Sejak lahir ia mengalami tunagrahita (disabilitas mental). Bento berasal dari keluarga (maaf) mungkin kurang mampu, ibunya seorag penjual sayur keliling di pasar dan ayahnya adalah seorang cleaning service dan penjaga sekolah. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sama seperti Bento, semua saudaranya mengalami tunagrahita.  Namun kakak perempuan pertamanya bisa lulus sampai SMA, sedangkan adiknya berusia sekitar 6 tahun di bawahnya.
Bento memang bukan seorang anak yang berprestasi, tapi dia adalah sosok anak laki-laki yang baik, ceria, lugu dan polos. Hal ini dibuktikannya pada saat teman-teman sekelasku memperoloknya dengan kata bodoh, gila, idiot, dan sebagainya. Bagaimana perasaanmu kalau ada orang yan memperolokmu seperti itu? marah? sedih? ingin lari? atau malah ingin memukul? Berbeda dengan Bento, ia justru menanggapinya dengan senyum dan tawa. Aku tahu meskipun Bento memliki kekurangan, tapi pasti ia tahu.... Ia mungkin hanya menutupinya dengan ekspresinya itu. Penasaran aku pun bertanya padanya
"Bento, kamu kok aneh sih? Diejekin temen bukannya marah kek, pukul kek?" 
“Heheheh, gak apa-apa...” Jawab Bento sambil cengeges
Mungkin saja jika saat itu aku berada di posisi Bento aku akan menangis karena aku adalah anak perempuan dengan cengengnya. Tapi itulah Bento, anak laki-laki yang begitu lugunya, benar-benar lugu.

Rajinnya si Bento..
 
Biasanya aku sampai di sekolah mepet-mepet bel masuk, tapi hari ini aku ada jadwal piket menapu kelas. Huhhh, memangnya aku sekolah cuma untuk membersihkan sekolah? Rumah saja tak pernah ku sapu (dulu). Ini namanya benar-benar eksploitasi sumber daya anak. (Tenang-tenang, ini hanya amarahku sat ini, dulu aku terima-terima saja kok. Mau bersihin sumur juga kalau sudah piketnya pasti akan ku lakukan. Hahaha)
Yak benar, di sekolah kami para murid diwajibkan melakukan piket kelas seperti menyapu kelas dan halaman, membuang sampah atau menghapus papan tulis.
Hari itu aku dijadwalkan untuk piket menyapu kelas, aku pun datang pagi-pagi buta dari rumah bahkan sampai lupa sarapan. Aku kira akan sampai disekolah lebih awal dari teman yang lain ternyata dugaanku salah, Bento telah datang lebih dulu. Yah memang ia selalu datang paling pagi, tapu mengapa ya Bento selalu datang paling pagi? bahkan di saat ia tidak ada jadwal piket.
Sebenarnya Bento adalah sosok anak yang semangat belajarnya tinggi, datang lebih awal, memperhatikan guru ketika sedang mengajar, mengerjakan PR dan melakukan tugas-tugas layaknya anak sekolah yang normal bahkan lebih.
Pagi itu aku langsung bergegas mengambil sapu dan menyapu kelas, saat itu aku sendirian temanku yang seharusnya piket belum kunjung datang. Entah karena kasihan padaku atau bagaimana, Bento pun mengambil sapu dan membantuku menyapu kelas.
Aku yang saat itu merasa masih belum mengenal Bento hanya bersikap biasa saja dan melanjutkan tugasku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun memberikan permen coklat kesukaanku kepadanya.
“Makasih ya udah bantuin aku piket, nih aku kasih permen” ucapku sambil menyodorkan permen
Tanpa sepata kata pun Bento lalu mengambil permen itu, ia memperhatikan bungkus permen yang menarik dan tak biasa itu.
“Ini permen, enaak kok” jelasku sambil menunjuk, memperagakan makan dan mengacungkan jempol
Aku kira ia akan makan coklat tersebut, tapi ia hanya mengamati bungkus coklat yang berkilauan bak perhiasan artis korea itu dan menyimpan dalam kantong bersablon lambang SD. Entah akan diapakan coklat itu aku tak peduli.

 Senang Susah di Sekolah
Sejauh yang aku tahu Bento selalu tampak ceria. Anehnya ia bahkan masih bisa berekspresi senang saat ia mendapatkan nilai nol untuk semua pelajaran. Sejauh yang aku tahu, ia memang tak pernah menampakkan ekspresi sedihnya. Begitulah Bento, tiada hari tanpa nilai nol dan tiada hari tanpa senyuman.
Saat itu adalah hari dimana nilai tugas matematika yang telah kami kerjakan dibagikan oleh Ibu Nira, guru matematika kami. Tak lama namaku pun dipanggil, ku lihat buku tugasku terdapat angka 80. Aku memang sangat suka pelajaran Matematika dari kecil.
“Ah, lumayan daripada yang laen” gumamku
Akhirnya, tiba juga saat giliran nilai Bento yang dibagikan. Aku bisa menebak, kali ini pasti masih nol. Tebakanku pun benar, alhasil Ibu Nira lagi-lagi memberi pesan pada Bento
"Habis pulang sekolah, nanti telurnya(nilai nol) digoreng ya Dewo..." 
“Iya Boook...” jawab Bento sambil cengengesan
Seperti biasa layaknya sedang menonton lakon komedi Opera van Java, Semua teman-temanku menertawainya.
Di lain hari saat mata pelajaran matematika, Ibu Nira memberikan sebuah kejutan untuk kami semua termasuk Bento, yakni nilai 100. Wohoo mana mungkin? Aku tak percaya.
Ya! Nilai 100. Aku bahkan tak pernah mendapat nilai 100 untuk pelajaran matematika sejak kelas dua. Tapi bagaimana bisa Bento yang seperti itu bisa mendapat nilai 100? Ini jauh diatasku?
Aku terheran-heran! Bagaimana bisa? Aku marah, aku marah karena merasa ini tak adil, aku marah sekali kepada Bento saat itu.  Berbeda dengan teman-teman sekelasku ada yang meresponnya dengan gelak tawa tak percaya namun tak sedikit yang keheranan.
Waktu istirahat pun tiba, aku segera membereskan peralatan tulisku dan memasukkannya ke dalam tas. Di saat bersamaan Bento menghampiriku, ia menunjukkan nilainya sempurna kepadaku. Aku lihat sepintas, ada jawaban yang seharusnya salah tetapi diberi tanda ceklis oleh Ibu Nara. Seetika aku merampas buku tugas Bento, aku mulai menyadari bahwa ini hanya sandiwara untuk menyenangkan Bento saja.
“Waah iya, nilaimu bagus bangeeet, semuanya betul. Kok kamu pinter banget sih Ben? Kapan-kapan kita belajar bareng yuuuk?” ucapku lega setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi
“Iya...” jawab Bento sambil menganggukkan kepala
Di lain hari, pelajaran matematika kembali berlangsung. Ibu Nira mengoreksi semua buku kami yang dari tadi sudah kami tumpuk di atas meja guru. Setelah selesai, Ibu Nira membagikan buku kami sembari mengumumkan bahwa nilai terbaik lagi-lagi diperoleh dari Bento. Masih sama seperti sebelumnya, Bento pun jadi anak terbahagia sedunia saat itu. Aku yang sudah tahu tentang keadaan yang sebenarnya bersikap biasa saja dan hanya tersenyum kepada Bento.
Sejak saat itu, kami sekelas terbiasa mendengar kabar jika Bento mendapat nilai terbaik untuk pelajaran Matematika.
Bento sangat menyukai pelajaran PENJAS ORKES (Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan).  Aku bisa bilang begitu karena dalam pelajaran PENJAS ORKES terdapat berbagai permainan olah raga yang disukai oleh Bento. Contohnya saja Lompat Jauh, saat giliran Bento tiba ia begitu tampak sangat siap, kemudian ia lari sekencang-kencangnya lalu ia menapakkan kakinya pada papan tahanan dan ia melompat ke pasir sejauh mungkin. Dan taraaa, hasilnya pun sangat memuaskan dengan tubuh yang ringan dan kaki panjangnya itu ia mampu mencapai jarak terjauh. Di bidang ini, ialah yang terbaik bahkan lebih baik dari kami semua. Pak Rahmat, guru PENJAS ORKES kamu memuji-muji kehebeatan Bento tersebut.

Dan Sepedaku pun Menjembatani Persahabatan Kami
Lonceng tanda pulang pun berbunyi, peralatan tulis segera ku bereskan dan seperti biasa aku langsung menuju tempat parkir sepeda. Ya amplop, ternyata oh ternyata kunci sepedaku hilang. Aku memang anak yang ceroboh aku juga sebenarnya lupa, apakah kunci sepedaku hilang, atau aku lupa meletakkannya atau ada temanku yang iseng.
Langsung aku bongkar bobrah isi tasku, semuanya keluar bak ayam yang dikeluarkan jeroannya, berantakan. Saat itu Bento melihatku dan menghampiriku.
“Kamu ngapain? Kok bukunya dikeluarin?” tanya bento penasaran
“Ini nih, kunci sepeda aku ilang. Kalo kayak gini nanti aku enggak bisa pulang” jawabku gemetaran hampir menangis
Bento pun mulai membantu mencari kunci sepedaku, mulai dari dalam tas, muter-muter kelas berkali-kali, laci bangku, sampai ke lapangan upacara. Sudah 2 jam kami mencari, aku pun putus asa dan mengajak Bento menyudahi pencarian ini.
Akhirnya sepeda terpaksa aku inapkan di sekolah, oleh penjaga sekolah aku dibantu memasukkan sepeda ke dalam kelas supaya lebih aman. Aku berjalan menuju luar gedung sekolah.
“Hmm kayaknya lumayan jauh juga deh jarak sekolah ke rumah, yaudah deh ini juga kan salahku. Semangat!!” kataku kepada diri sendiri seperti orang gila
Tak lama dari jauh aku mendengar suara loncong sepeda dari belakangku, aku pun menoleh. Dan kulihat ternyata itu Bento.
“Kamu aku gonceng mau, nanti aku anter sampek rumahmu?” tawar Bento
“Tapi rumahku jauh loh kamu enggak apa-apa? Nanti kamu capek?”
Bento menggeleng-helengkan kepalanya, kupikir-pikir tidak ada salahnya kan aku pulang bareng Bento? Dengan begitu aku tidak perlu capek-capek jalan kaki dalam perjalanan kurang lebih menempuh jarak 2 km dari rumahku.

Gorengan yang Menggiurkan

Jarak antara kantin dan kelas kami tak jauh dan hanya dibatasi oleh dua kelas saja. Tersedia berbagai makanan dari yang paling murah sampai yang mahal. Namun Jajanan yang paling digemari adalah gorengan. Ya ada pisang goreng, ubi goreng, bakwan goreng, tempe goreng, bahkan jika ada yang mau pesan kucing goreng juga ada. Hahaha becanda sobat..
Jika pagi hari, suasana di sini memang dingin wajar jika setiap pagi kantin selalu ramai oleh kami. Kami rela berdesakan demi mendapatkan gorengan hangat yang kami inginkan.
Kemudian kami bawa gorengan tersebut ke kelas kami untuk disantap dan sebagai penghangat mulut kami.
Waktu itu tak sengaja aku melihat Bento sedang memandangi salah seorang temanku yang sedang makan ubi goreng dengan nikmatnya. Dengan warna ungu yang cantik dibalut tepung terigu yang renyah dan dipadu rasa manis dari ubinya dan gurih dari tepungnya siapa yang tidak ngiler melihatnya?
Aku melihat sepertinya Bento sangat menginginkan gorengan tersebut, tapi mungkin ia tak bisa membelinya.
Aku memang jarang melihat Bento membeli jajan, mungkin ia ingin menghemat uang saku yang didapat dari urang tuanya atau ia ingin menabungkan uangnya daripada sekedar untuk membeli jajanan.
Kali ini aku benar-benar tak tega melihat keadaan seperti itu? Ku tuju kantin kecil yang tak pernah kujamah sebelumnya. Akhirnya suasana yang tak pernah kurasakan kudapatkan jua. Sesak, gerah, panas, bau, semua bercampur aduk. Ku intip dari sela-sela tubuh teman-temanku yang berdesakan, dan sepertinya sebentar lagi aku bisa meraih tempat dimana tumpukan gorengan itu berada.
Ternyata oh ternyata tak terdapat satupun gorengan di sana, yang tersisa adalah kertas koran berminyak yang digunakan sebagai alas gorengan dan remah-remah sisa gorangan.
Aku pun kembali ke kelas dengan tangan kosong, masih ku lihat Bento memandangi temanku yang sedang makan gorengan. Kasihan sih, tapi harus bagaimana lagi? Gorengan sudah tak tersisa lagi. Daripada aku terus merasa kasihan lebih baik aku alihkan perhatianku ke hal lain saja daripada aku terus-terusan merasa kasihan padanya.

Bento Bisa Marah Juga

Ketika itu suasana kelas memang sedang kosong, tidak ada seorangpun guru yang masuk kelas karena sedang ada rapat di ruang guru. Wajarlah Bondan, anak yang paling bandel satu seklah berulah. Kelas menjadi ribut, kotor, sama sekali tidak teratur. Andai saja aku yang menjabat jadi ketua kelas, akan ku...
aish bukan itu yang ingin ku bicarakan. Mengusili Bento tampaknya sudah menjadi hobi bagi Bondan, seperti biasa memperolok dan melempari Bento menggunakan kertas. Namun yang tak biasa di sini, teman sekelasku yang lain pun mengikuti ulah Bondan tersebut, malah ada yang melempari bento dengan batu kerikil dan juga sampah.
Tak jarang kerikil dan sampah itu mengenai kepala dan wajah Bento, ini memang sudah kelewatan... Aku ingin membantu Bento, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku takut, aku sudah kalah jumlah. Aku juga tak ingin dikira sebagai anak sok baik, sok cari perhatian. Aku benar-benar tidak sanggup berbuat apa-apa.
Batu kerikil tersebut semakin sering mengenai kepala Bento.  Aku tahu itu pasti rasanya sakit sekali, karena aku yang berjarak 3 bangku jauhnya dari Bento saja bisa mendengar suara ketukan yang ditimbulkan oleh batu kerikil yang mengenai kepala Bento tersebut.
"Ctakkk.... ctakkk.... ctakkk" bunyinya terdengar semakin sering
 Bento yang tak bisa menahan rasa sakit itu lalu menangis seraya bertanya          
“Kenapa sih kalian semua jahat? Aku salah apa? sambil mengusap air matanya, Bento pun mengambil tasnya lalu pulang kerumah seperti tak peduli lagi bagaimana jika tiba-tiba ada guru yang masuk lalu menanyakan keberadaannya saat itu.
Kami baru tahu ekspresi macam itu, speechless, dazed whatever laah, dan hanya bisa terdiam ketika melihat Bento menangis terisak-isak seperti itu.
Keesokan harinya Bento tidak masuk sekolah. Kami bersikap biasa saja karena bukan hanya kali ini saja Bento membolos, biasanya ia membolos dengan alasan membantu ibunya berjualan sayur.
Di hari berikutnya Bento masih belum datang, tapi yang aneh justru Ayahnya lah yang datang ke sekolah kami. Ini aneh karena pada hari tersebut tidak sedang ada rapat orangtua wali murid. Tapi kenapa Ayah Bento datang ke sekolah kami? Aku benar-benar sangat penasaran sampai-sampai aku tak bisa lepas memikirkan hal tersebut.
Rasa penasaraku yang berlebihan itu akhirnya terjawab saat Ibu Fitri, wali kelas kami memberitahu kamu bahwa Bento telah pindah sekolah. Setelah rasa penasaranku terjawab, muncul rasa ingin tahu. Kenapa Bento pindah sekolah? Apakah karena peristiea kemarin? Jadi aku tidak berarti apapun dimatanya? Aku pikir kami sudah berteman.
Sampai saat ini aku tak tahu apa alasan Bento pindah sekolah dan kemana ia pindah. Ada yang bilang ia dipindahkan ke SLB karena orangtuanya merasa Bento berbeda dengan kami dan tidak bisa disamakan dengan anak normal lainnya.
Belum lama ini aku dengar dari Ibuku bahwa Bento telah meninggal. Kata Ibuku penyebab Bento meninggal dalam tabrak lari dalam perjalanan pulang dari kerja sebagai buruh. Mendengar itu seketika badanku panas dingin dan lemas, perasaanku tercampur. Rasa kaget, sedih dan bersalah karena aku tak bisa menjadi sahabat yang baik bahkan teman semasa hidup Bento.


Itulah secuil kisah di masa kecilku, semoga para SahabatDifabel dan sahabat yang lain bisa mengambil hikmahnya. Dan semoga bisa lebih menghargai dan mengasihi para sahabat dengan disabilitas.

"Teman adalah anugrah dari Tuhan yang berharga"

Comments
2 Comments

2 comments:

  1. Baru nemu blog ini, g tw knapa langsung pengen liat cerita ini. nangis aku bacanya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. cup cup cup.. jangan nangis lg ya sis :')

      Delete

Habis baca jangan lupa tinggalkan komentar ya ;)

 
Copyright © 2015 Daridan Veins. Powered by Blogger.