Sunday, 1 March 2015

Berani Lebih Yakin Melangkah ke Masa Depan






Setelah lulus kuliah aku harus dihadapkan dengan dunia kerja dan tetap meluruskan setirku untuk bekerja sebagai tenaga medis. Dalam jangka waktu beberapa minggu setelah kelulusan, akhirnya aku diterima bekerja di klinik yang tak jauh dari rumahku.

Tentu saja aku harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru. Di awal masa kerja aku menjalani masa training selama 10 hari dan 10 jam per harinya. Ini berarti aku juga harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih larut dari karyawan lain.

Setelah terlepas dari masa training, aku mulai dengan babak baru yakni magang. Bekerja sesuai shift seperti karyawan lain, jadwal terdiri dari shift pagi, sore dan malam di mana jangka waktu tiap shift-nya 7 jam. Fiuh lumayan lah gak terlalu lelah dibanding masa training sebelumnya. Namun seperti biasa, untuk shift pagi aku harus berangkat lebih awal ketimbang karyawan lain.  

Kini aku semakin terbiasa dengan pola kerja shift ini karena semasa kuliah aku juga terbiasa mengalami dinas siang, sore dan malam di rumah sakit. Meskipun saat itu aku tinggal di asrama dan jarak asrama ke rumah sakit bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Perbedaan situasi ini rupanya bikin ibu jadi worrywart, saat tahu kalau aku harus bekerja shift malam. Bahkan sampe nyaranin supaya aku tukeran dines sama senior. Tapi rasanya gak mungkin banget lah ya, masa dines malem baru sekali aja mau dituker? Lagian aku gak punya alasan konkret yang bisa dijelasin ke senior.

Alhasil aku yang biasanya berangkat dan pulang kerja naik motor sendirian, pas kerja shift malam kudu dianter jemput sama ayah, padahal ayah juga harus kerja pagi. Sudah pasti ayah terlambat, dan ini gara-gara ngejemput aku. Rasanya saat itu aku kok merasa jadi anak yang paling merepotkan sedunia. Padahal jarak klinik-rumah lumayan dekat, sekitar sekitar 2 km.


Jadwal dinas. Sebenernya karyawati pun dikasih kelonggaran buat milih jumlah dinas malam.


Beberapa waktu yang lalu memang saat itu lagi santer-santernya terdengar lagi rawan begal di wilayah tempat tinggalku. Jadi sah-sah aja kalo orang tua khawatir anak gadisnya keluar malam lagipula kalo nginget-nginget soal begal, aku juga takut sih sebenernya mau keluar malam.

Dinas malam berikutnya kecemasan ibuku rupanya masih seperti sebelumnya. Bujukan maut pun jadi senjata.
“Aku berani kok bu, kan cuman sini situ doang, jalanan masih rame kok, dinesnya juga sama temen perempuan, lagian di sana ada pasien yang lebih membutuhkanku. Selagi aku masih dalam lindungan Allah, yakin dan serahkan saja semuanya sama Allah?” ucapku sambil tersenyum

Shift malam pertama bareng Mbak Miss. Baru dateng langsung dapet pelukan :'^


Ibu cuma bisa menghela nafas dan menatapku sambil mengangguk. Awal tanda pesetujuan dan juga merupakan awal keberanianku terkumpul lebih! Aku sadar bahwa tak peduli seberapa takutnya aku, aku harus #BeraniLebih yakin dalam menjalankan tugas dan kewajibanku. Bahkan jika nyawa menjadi taruhan, yakin saja bahwa Allah yang maha kuasa akan melindungiku menjalankan tugas mulia ini. Kini aku harus #BeraniLebih yakin melangkah untuk menjalankan tugas dan kewajibanku!!!








based on true story




Dwi Ary Nugraheni (DAN)
Facebook: Dwi Ary Nugraheni
Twitter: @bdwiaryn









Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Habis baca jangan lupa tinggalkan komentar ya ;)

 
Copyright © 2015 Daridan Veins. Powered by Blogger.